Stay Connected

Diberdayakan oleh Blogger.

Tags


Powered by WidgetsForFree

Be our Fan on Facebook

Ads

Popular Posts

Featured Content

Resources and Tools

Popular Posts

Our Partners

Tampilkan postingan dengan label haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label haji. Tampilkan semua postingan
Jumat, 14 Desember 2012

Menyambut Jemaah Haji

Do'a Untuk Menyambut Jemaah Haji

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para shahabatnya dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat.Amma ba’du:

Perjalanan haji merupakan perjalanan ibadah yang penuh dengan rintangan dan cobaan, yang diimpikan oleh setiap muslim, oleh karenanya Allah Ta’alaa menjanjikan ganjaran surga bagi siapa yang mendapatkan haji mabrur serta diampuni dosanya.

Ketika jamaah haji kembali ke tanah air, sebagian besar kaum muslimin berbondong-bondong menyambut mereka dengan mengucapkan ucapan selamat dan doa atas keselamatan dan keberhasilan mereka. Maka apa kedudukan ucapan selamat dan doa untuk jamaah haji yang kembali pulang dari sisi syar’ie?

Mengapa orang yang mengucapkan kepada orang yang selesai mengerjakan shalat “Taqabbalallahu” (semoga Allah mengkabulkannya) bahwa itu perkataan bid’ah, sedangkan orang yang selesai Umrah atau Haji diucapkan kepada mereka: “Taqabbalallahu hajjaka atau umrotaka” atau ucapan “hajjun mabrur  au umratun maqbulah” tanpa ada yang mengingkarinya, dan ini masyhur sampai dikalangan para penuntut ilmu dan ulama tanpa diingkari, padahal shalat merupakan kewajiban dan haji juga kewajiban, dan doanya juga doa yang sama, namun mengapa yang pertama dihukumi bid’ah sedangkan yang kedua tidak?

Segala puji bagi Allah shalawat serta salam semoga salam tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para shahabatnya dan para pengikutnya yang baik hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Sesungguhnya ucapan seorang muslim yang dibiasakan kepada saudaranya setelah shalat “Taqabbalallahu” sebagai bentuk ibadah merupakan ucapan bid’ah, karena ibadah dasarnya adalah tauqifiyah, sedangkan tidak pernah ada riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun salah seorang shahabat yang mulia membiasakan ucapan itu.

Adapun ucapan kepada jamaah haji maupun umrah, maka dalam hal itu ada beberapa riwayat:

Telah dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dan At-Thabrani dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: sesungguhnya aku berhaji, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan bersamanya, dan berkata: “wahai pemuda, semoga Allah membekalimu dengan ketakwaan, dan menuntunmu kepada kebaikan, dan mencukupimu dari kesedihan”, maka tatkala pemuda tersebut pulang dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau berkata: “wahai pemuda, semoga Allah menerima hajimu, dan mengampuni dosamu, dan menggantikan nafkahmu”.

Juga diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dalam sunannya dari Ibnu Umar bahwa beliau mengucapkan kepada orang yang kembali dari haji:

تقبل الله سعيك وأعظم أجرك، وأخلف نفقتك.

“Taqabbalallahu sa’yaka wa a’dzama ajraka wa akhlafa nafaqataka”

Artinya: (semoga Allah menerima sa’imu(usahamu), dan membesarkan pahalamu, dan mengganti nafkahmu).

Ibnu Muflih rahimahullah berkata dalam kitab Al-Furu’: Al-Ajuri menyebutkan tentang mustahabnya mengantarkan haji dan berpamitan dengannya dan memintanya untuk mendoakannya, Al-Fadhl bin Ziyad menukilkan apa yang kami dengar doa untuk orang yang pergi berperang jika kembali, adapun haji maka kami mendengarnya dari Ibnu Umar dan Abu Qalabah dan orang-orang juga mendoakannya.

Dikatakan dalam Al-Mausu’ah Fiqhiyyah: ulama Syafi’iyyah berpendapat dianjurkan ucapan kepada orang yang berhaji atau umrah:

تقبل الله حجك أو عمرتك وغفر ذنبك وأخلف عليك نفقتك

“Taqabbalallahu hajjaka au umrataka wa ghafara dzanbaka wa akhlafa ‘alaika nafaqataka”

Artinya: (Semoga Allah menerima hajimu atau umrahmu, dan mengampuni dosamu, dan mengganti nafkahmu).

Perbedaan antara doa dalam dua keadaan itu, tidak ada riwayat doa dari seorang shahabatpun setelah shalat, dan adanya riwayat setelah haji.

Demikian pula Syeikh Ibnu Jibrin rahimahullah telah mengeluarkan fatwa kebolehannya diqiyaskan dengan ucapan selamat ketika hari raya.

Wallahu A’lam bishowab

Jiwa - Jiwa Mashar


Isrofil baru saja meniup sangkakala atas idzin-Nya namun suaranya masih saja menggelegar dan menggetarkan setiap jiwa-jiwa yang mulai mendengar dari tidurnya yang panjang. “(yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. (Qs. Ibraahim(14):48)
Jiwa-jiwa mahsyar berpandangan, terpaku ketakutan.Menelan ludah yang tak berkesudahan. Berjalan seakan kehilangan ingatan. Tak terbayang kengerian diantara panasnya sengatan mentari yang jaraknya hanya sejengkal di atas ubun-ubun sendiri. Duhai Rabbi, inikah tempat yang kau janjikan ? tempat dimana engkau cabut syaraf malu dan iba kami. Ketika kami mengasihani diri sendiri diantara butiran-butiran keringat yang menenggelamkan tubuh kami. Mengapa ada diantara kami yang kau berikan payung penahan teriknya mentari sementara kami kau acuhkan ?
Jiwa-jiwa mahsyar membelalak tercekam. Ketika Tuhannya memberikan Al Qur’an di tangan kirinya. Wahai alangkah baik kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku ini. Dimana hartaku kini ? Dimana pangkat dan kekuasaanku ? Ah, belenggu di tangan dan leherku ini terasa mencekat. Tercekik. Sekiranya hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Haus. Kering. Mengapa darah dan nanah yang engkau hidangkan ya Rabbi ?
Jiwa-jiwa mahsyar menatap kosong penuh kepucatan. Benarkah hari ini benar-benar terjadi ? benarkah kita telah dibangkitkan padahal dahulunya kita adalah tubuh yang telah hancur termakan tanah ? Ah, seandainya saja kudengarkan baik-baik sebait ayat yang dibacakan seorang teman sewaktu di dunia, “Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali”…..
“Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Rabbnya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: 'Bukankah (kebangkitan) itu benar 'Mereka menjawab: 'Sungguh benar, demi Rabb kami'. Berfirman Allah: 'Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari (nya).”
Jiwa-jiwa mahsyar menangis tersedu sedan. Ia meratap, terguguk, pilu, menyayat hati. Alam masyhar terang namun terasa gelap. Luasnya seluas mata memandang namun serasa sesak, menghimpit paru-paru berjejak asap jahannam dunia. Mengapa bentuk tubuhku tidak seperti tubuhku selama di dunia ? dan mengapa aku berbaris tidak pada barisan manusia-manusia berwajah cahaya ?
Suatu ketika, Muadz bin Jabal ra menghadap Rasulullah saw dan bertanya: 'Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah SWT: 'Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris.' (QS An-Naba':18)'
Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: 'Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris.'
Barisan pertama, digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: 'Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan kedua, digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Datanglah suara dari sisi Yang Maha Pengasih: 'Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat,maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan ketiga, mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. 'Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan keempat, digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. 'Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan kelima, digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah SWT menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. 'Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah SWT, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan keenam, digiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. 'Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan ketujuh, digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. 'Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan kedelapan, digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. 'Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan kesembilan, digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. 'Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan kesepuluh, digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. 'Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan kesebelas, digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. 'Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka...'
Barisan keduabelas, mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: 'Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keredhaan Allah Yang Maha Pengasih...'
Jiwa-jiwa mahsyar mencakar wajahnya. Meratap menyesali kesia-sian hidup sebelumnya. Berharap waktu kan berbalik walau sedetik dan menjadikannya menjadi orang yang paling bertakwa. Atau bahkan menjadikannya seekor binatang atau makhluk lainnya. Tak ada pertanggung jawaban dan tak kan ada penyesalan.
Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata): 'Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim. (Qs. 21:97)
Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya dan orang kafir berkata: 'Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah'. (Qs. 78:40)
Jiwa-jiwa mahsyar tersenyum penuh kemenangan. Menggenggam Al Qur’an di tangan kanan. Bertelekan permadani dan intan berlian. Meminum minuman yang menyegarkan dibawah naungan payung yang meneduhkan. Tak ada kesusahan dan kerisauan. Yang ada hanyalah keselamatan yang telah Allah janjikan.
Hadith Qudsi: “Pada hari Kiamat Allah berfirman: ‘Pada hari ini orang-orang yang berkumpul (di padang mahsyar) akan mengetahui siapa yang termasuk keluarga utama.’ Para sahabat bertanya: ‘Siapakah ahli (keluarga) utama itu, Ya Rasulullah?’ Nabi SAW menjawab: Mereka itu ialah keluarga-keluarga majlis zikir di masjid-masjid” (Hadith Riwayat Ahmad dari Abu Sa’id Al Khudri).
Wallohu a’alam.
Unknown artikel, haji, umroh

Cahaya Hati


Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta, gelar, pangkat, jabatan, dan kedudukan yang telah menggenggam seluruh isi dunia ini? Marilah kita kaji ulang, seberapa besar sebenarnya nilai dari apa-apa yang telah kita raih selama ini.
Di sebuah harian pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble. Dengan teropong ini berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi. Padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi bimasakti, yang di dalamnya terdapat planet-planet yang membuat takjub siapa pun yang mencoba bersungguh-sungguh mempelajarinya. Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil, yang berada dalam gugusan galaksi di dalam tata surya kita. Nah, apalagi planet bumi ini sendiri yang besarnya hanya satu noktah. Sungguh tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut. Sungguh alangkah dahsyatnya.
Sayangnya, seringkali orang yang merasa telah berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya di bumi ini - dan dengan demikian merasa telah sukses - suka tergelincir hanya mempergauli dunianya saja. Akibatnya, keberadaannya membuat ia bangga dan pongah, tetapi ketiadaannya serta merta membuat lahir batinnya sengsara dan tersiksa. Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya, ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata, sedangkan ketika gagal mendapatkannya, ia pun serta merta merasa diri sial. Bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimpakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.
Orang semacam ini tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkannya dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla. Mati-matian ia berjuang mengejar apa-apa yang dinginkannya, pasti tidak akan dapat dicapai tanpa izin-Nya. Laa haula walaa quwwata illaabillaah! Begitulah kalau orang hanya bergaul, dengan dunia yang ternyata tidak ada apa-apanya ini.
Padahal, seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Menguasai jagat raya, sehingga hati kita tidak akan pernah galau oleh dunia yang kecil mungil ini. Laa khaufun alaihim walaa hum yahjanuun! Samasekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun di dunia ini. Semua ini tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia, Zat Pemilik Alam Semesta yang begitu hebat dan dahsyat.
Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan di dunia ini. Tubuh lekat dengan dunia, tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya. Ada dan tiadanya segala perkara dunia ini di sisi kita jangan sekali-kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya di sisi Allah. Sekali hati ini lekat dengan dunia, maka adanya akan membuat bangga, sedangkan tiadanya akan membuat kita terluka. Ini berarti kita akan sengsara karenanya, karena ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.
Betapa tidak! Tabiat dunia itu senantisa dipergilirkan. Datang, tertahan, diambil. Mudah, susah. Sehat, sakit. Dipuji, dicaci. Dihormati, direndahkan. Semuanya terjadi silih berganti. Nah, kalau hati kita hanya akrab dengan kejadian-kejadian seperti itu tanpa krab dengan Zat pemilik kejadiannya, maka letihlah hidup kita.
Lain halnya kalau hati kita selalu bersama Allah. Perubahan apa saja dalam episode kehidupan dunia tidak akan ada satu pun yang merugikan kita. Artinya, memang kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Di antara yang penting yang kita perhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terhadap dunia ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia, niscaya Allah mencintainya, dan barangsiapa yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia mencintainya."
Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Bagi orang-orang yang zuhud terhadap dunia, sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tentram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad, Mauqufan)
Andaikata kita merasa lebih tentram dengan sejumlah tabungan di bank, maka berarti kita belum zuhud. Seberapa besar pun uang tabungan kita, seharusnya kita lebih merasa tentram dengan jaminan Allah. Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rizki kita kalau tidak ada izin Allah.
Sekiranya kita memiliki orang tua atau sahabat yang memiliki kedudukan tertentu, hendaknya kita tidak sampai merasa tentram dengan jaminan mereka atau siapa pun. Karena, semua itu tidak akan datang kepada kita, kecuali dengan izin Allah.
Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapun yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis, tetapi Dia Mahatahu akan segala kebutuhan kita.jangan ukur kemuliaan seseorang dengan adanya dunia di genggamannya. Sebaliknya jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita tidak menghormati seseorang karena ia tidak memiliki apa-apa. Kalau kita menghormati seseorang karena kedudukan dan kekayaannya, kalau meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata, maka ini berarti kita sudah mulai cinta dunia. Akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.
Mengapa demikian? Karena, hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita. Padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseorang yang sederhana itu sebagai isyarat bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.
Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan-keuntungan. Ketika hendak membeli suatu barang dan kita tahu harga barang tersebut di supermarket lebih murah ketimbang membelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya, sehingga kita mersa perlu untuk menawarnya dengan harga serendah mungkin, maka mulailah merasa beruntung jikalau kita menguntungkan ibu tua berimbang kita mendapatkan untung darinya. Artinya, pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan harga yang ditawarkannya daripada membelinya ke supermarket. Walhasil, keuntungan bagi kita justru ketika kita bisa memberikan sesuatu kepada orang lain.
Lain halnya dengan keuntungan diuniawi. Keuntungan semacam ini baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika bisa memberi lebih daripada yang diberikan oleh orang lain. Jelas, akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.
Bagi orang-orang yang cinta dunia, tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati, disegani, dipuji, dan dimuliakan. Akan tetapi, bagi orang-orang yang sangat merindukan kedudukan di sisi Allah, justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain. Cukup ini saja! Perkara berterima kasih atau tidak, itu samasekali bukan urusan kita. Dapatnya kita menghargai, memuliakan, dan menolong orang lain pun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.
Sungguh sangat lain bagi ahli dunia, yang segalanya serba kalkulasi, balas membalas, serta ada imbalan atau tidak ada imbalan. Karenanya, tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari-harinya selalu penuh dengan tuntutan dan penghargaan, pujian, dan lain sebagainya, dari orang lain. Terkadang untuk mendapatkan semua itu ia merekayasa perkataan, penampilan, dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.
Bagi ahli zuhud tidaklah demikian. Yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin, dengan menghargai, memuliakan, dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli-ahli zuhud. Lebih merasa aman dan menyukai apa-apa yang terbaik di sisi Allah daripada apa yang didapatkan dari selain Dia.
Walhasil, siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah, hendaknya ia berjuang sekuat-kuatnya untuk mengubah diri, mengubah sikap hidup, menjadi orang yang tidak cinta dunia, sehingga jadilah ia ahli zuhud.
"Adakalanya nuur Illahi itu turun kepadamu", tulis Syaikh Ibnu Atho'illah dalam kitabnya, Al Hikam, "tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan, sehingga kembalilah nuur itu ke tempatnya semula. Oleh sebab itu, kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah, niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma'rifat dan rahasia-rahasia."
Subhanallaah, sungguh akan merasakan hakikat kelezatan hidup di dunia ini, yang sangat luar biasa, siapapun yang hatinya telah dipenuhi dengan cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla. "Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki ..." (QS. An Nuur [24] : 35).
_________________________
oleh : K.H. Abdullah Gymnastiar
Unknown artikel, haji, umroh

Rindu Pada Rasul-MU

Ya Allah izinkan aku mengungkapkan rinduku pada rasul-MU Ya Allah.....
Ya rasul, aku rindu kepadamu....
Aku rindu atas kerinduan dan ketaatanmu, yang selalu kau curahkan kpd sang Khaliq
Ya rasul, ceritakan kepadaku tentang kehidupanmu
Aku rindu keramahanmu yang saat ini makin sedikit kurasakan di dunia ini
Aku rindu akan sifat bersahaja yang kau contohkan semasa hidupmu
Ya rasul, aku rindu cara hidupmu, walaupun aku akui bahwa aku malu kalau aku juga mau ikuti cara hidupmu
Aku selalu berpura-pura, karena hidup ini terlalu penuh dengan kepalsuan
Ya rasul, apakah rinduku sekarang ini hanyalah kerinduan semu
Ya Allah mohon ajari aku untuk selalu merindu dengan sebenar-benarnya rindu kepada-MU dan rasul-MU
Ya Allah ajari aku untuk mengkekalkan rindu karena sering ketika imanku lengah aku jadi jauh dari-MU dan rasul-MU
Ya rasul, ceritakan aku tentang rumahmu, menu makanmu, pakaianmu yang bersahaja
Ya rasul, ceritakan kepadaku tentang sahabat-sahabat sejatimu
Ya rasul, ceritakan kepadaku tentang pengorbanan dan perjuanganmu dalam menegakkan agama Allah.
Ya rasul, wajahmu selalu ceria dengan pikiran yang bersih dan jernih
Ya rasul, engkau begitu kuat menghindari kesombongan dan maksiat
Aku ingin mencontohmu yang selalu tersenyum tulus terhadap sesama
Aku juga ingin sepertimu yang tidak pernah merendahkan orang lain, dengan sikapmu yang selalu menyapa terlebih dahulu.
Ya rasul aku ingin mencontohmu utk tidak berkata yang sia-sia dan tidak menyakiti orang lain.
Ya rasul, bagaimana caranya bisa hidup bersahaja seperti kehidupanmu
Ya rasul, ceritakan kepadaku tentang kehidupanmu yang sederhana itu
Aku ingin walau dengan hidup sederhana aku tetap bisa seperti dirimu yang selalu bisa sedekah dengan ikhlas
Aku juga ingin sepertimu, dimana tindakanmu sesuai dengan ucapanmu
Ya rasul, bagaimana caranya menghindarkan dari nafsu yang selalu saja datang dan mengoyak-ngoyak hatiku
Atau paling tidak bisa menahannya
Ya rasul, bagaimana membuat bendungan yang kokoh utk meningkatkan keimanan dan ketaqwaanku yang masih begitu kecil dan lemah ini
Ya Allah, rasul-Mu itu, begitu aku mengagumi pribadinya.
Ya Allah, izinkan aku nanti menemui-MU dan rasul-MU.... utk melepas rindu ini
Ya Allah, juga mohon bimbinglah hamba-MU yang lemah ini agar selalu berada di jalan-MU....Ya Allah....
Ya Allah, izinkan aku memasuki surga-MU karena aku sangat takut.....akan neraka-MU Ya Allah.....

Oleh : hamba Allah
Unknown artikel, haji, umroh

HARIKU TELAH TIBA…..


( Ajalku Telah Menjemput )

Hariku telah tiba….

Selamat tinggal semua…….

Saat ini semua sunyi……,begitu sunyi……

Tidak ada lagi…. arti harta…………
Tidak ada lagi.…arti jabatan………
Tidak ada lagi….arti keangkuhan…….
Tidak ada lagi…. arti kesenangan duniawi…….

ya ALLAH…..
Andai….aku diperbolehkan kembali lagi ke
dunia……aku akan …..

Mengikuti….. perintah-MU
dan menjauhi larangan-MU ya ALLAH ……

aku akan rajin beribadah....
aku tidak akan menyakiti hati kedua orang tua….
aku tidak akan menyakiti hati guru….
aku tidak akan menyakiti hati teman….
aku tidak akan menyakiti hati orang lain….
aku tidak akan melakukan tipu daya….
aku akan penuhi semua hutangku, janjiku, ….
aku akan bertaubat dan tidak akan melakukan maksiat lagi….
Tapi …..aku sudah di alam barzakh ini..., dan tidak
dapat melakukan itu semua......

Kini…tinggal menunggu…. pengadilan….di hari akhir nanti…..

________________________
oleh : hamba Allah
Unknown artikel, haji, umroh

Strategi Setan Menjerumuskan Manusia


Sebelum kita mengetahui strategi setan menjerumuskan manusia, ada baiknya terlebih dahulu mengetahui Visi dan Misi setan.
Visi setan adalah memperbudak manusia dan Misi setan mengkondisikan manusia lupa kepada Alah SWT.

Adapun strategi setan untuk mewujudkan visi dan misinya adalah sbb :

1. Waswasah
Waswasah artinya membisikkan keraguan pada manusia ketika melakukan kebaikan atau amal sholeh. Saat kumandang azan subuh dan tubuh kita masih dililit selimut, terbersit dalam pikiran kita, "Nanti lima menit lagi". Ini adalah waswasah. Kenyataannya bukan lima menit tapi satu jam, akhirnya Sholat Shubuh terlambat bahkan tidak sholat.
2. Tazyin
Tazyin artinya membungkus kemaksiatan dengan kenikmatan. Segala yang berbau maksiat biasanya terlihat indah, Misalnya, mengapa orang yang berpacaran lebih mesra daripada suami-istri? Jalan-jalan saat pacaran lebih mengesankan daripada setelah menikah. Ini karena ada unsur tazyin. Pacaran itu maksiat, sementara nikah itu ibadah. Maksiat disulap oleh setan sehingga terasa lebih indah, nikmat dan mengesankan. Inilah yang disebut strategi tazyin.
3.Tamanni
Tamanni artinya memperdaya manusia dengan khayalan dan angan-angan. Pernahkan terbersit niat akan Shalat Tahjud saat merebahkan badan di tempat tidur? Namun pada jam tiga saat wekwr berbunyi, kita cepat-cepat mematikannya lalu meneruskan tidur.
Pernahkan kita ingin bertobat? Namun pada sat maksiat ada di depan mata, kita tetap saja melakukannya. Ironisnya ini berlangsung berkali-kali. Inilah yang disebut strategi tamanni.
4. A'dawah
A'dawah artinya berusaha menanamkan permusuhan. Setan berikhtiar menumbuhkan permusuhan di anatara manusia. Biasanya permusuhan berawal dari prasangka buruk. Supaya manusia bermusuhan, setan biasanya menumbuhkan prasangka buruk.Karena itu waspadai kalau kita berprasangka buruk pada orang lain, sesungguhnya kita telah terperangkap strategi setan.
5. Takwif
Takwif artinya menakut-nakuti. Pernahkah merasa takut miskin karena menginfakkan sebagian harta, takut disebut sok alim karena datang ke majelis taklim? Kalau kita pernah merasakannya, inilah strategi takhwif.

6. Shaddun
Shaddun artinya berusaha menghalang-halangi manusia menjalankan perintah Allah dengan menggunakan berbagai hambatan. Pernahkah anda merasa malas saat mau melakukan sholat, atau mengantuk saat membacaAl Qur'an meskipun sudah cukup tidur? Ini adalah gejala shaddun dari setan.
7. Wa'dun
Wa'dun artinya janji palsu. Setan berusaha membujuk manusia agar mau mengikutinya dengan memberikan janji-janji yang menggiurkan. Akhirnya manusia mempercayainya. Misalnya, banyak kasus seorang wanita menyerahkan dirinya pada sang pacar karena dijanjikan akan dinikahi, namun setelah hamil sang pacar meninggalkannya begutu saja. Dia tidak mau bertanggung jawab. Inilah contoh wa'dun atau janji palsu dari setan.
8. Kaidun
Kaidun artinya tipu daya. Setan berusaha sekuat tenaga memasang sejumlah perangkap agar manusia terjebak. Pernahkah saat diberi tugas, kita berpikir nanti saja mengerjakannya krn waktu masih lama? Ternyata setelah dekat waktunya kita mengerjakan asal-asalan dan tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak optimal atau ada kemunginan pada waktu yang ditentukan pekerjaan tidak selesai. Strategi ini disebut kaidun.
9. Nisyan
Nisyan artinya lupa. Sesungguhnya lupa itu adalah hal yang manusiawi. Lupa memang sesuatu hal yang manusiawi, tetapi setan berusaha agar manusia menjadikan lupa sebagai alasan untuk menutupi tanggung jawab. Pernahkan kita lupa menunaikan janji? lupa sholat? Kalau sesekali itu bisa disebut manusiawi, tetapi kalau sering dilakukan berarti terjebak strategi nisyan.

Demikian ringkasan tentang strategi setan. Semoga kita dapat mencermati dan berusaha agar tidak terjebak strategi setan laknatullah (setan yang dilaknat Allah)


______________________________________
Sumber :
Judul Buku : Strategi setan menjerumuskan manusia
(Menelanjangi strategi jin)
Pengarang : Ustadz Aam Amiruddin
Unknown artikel, haji, umroh

Mendekatkan diri pada Allah

BEBERAPA CARA MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH SWT :

1. Sholat wajib tepat waktu, selalu berdoa dan berdzikir kepada Allah
Dengan sholat, berdo'a dan dzikir kepada Allah, Inya Allah hati menjadi tenang, damai dan makin dekat dengan-Nya
2. Sholat tahajud
Dengan sholat tahajud Insya Allah cenderung mendapatkan perasaan tenang. Hal ini dimungkinkan karena di tengah kesunyian malam didapatkan kondisi keheningan dan ketenangan suasana,yang tentu saja semua itu hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Pada malam hari, diri ini tidak lagi disibukkan dengan urusan pekerjaan ataupun urusan-urusan duniawi lainnya sehingga dapat lebih khusyu saat menghadap kepada-Nya.
3. Mengingat kematian yang dapat datang setiap saat
Kematian sebenarnya sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita. Dan dapat secepat kilat menjemput.
4. Membayangkan tidur di dalam kubur.
Membayangkan tidur dalam kuburan yang sempit , gelap dan sunyi saat kita mati nanti. Semoga amal ibadah kita selama di dunia ini dapat menemani kita di alam kubur nanti.
5. Membayangkan kedahsyatan siksa neraka.
Azab Allah sangat pedih bagi yang tidak menjauhi larangan-Nya dan tidak mengikuti perintah-Nya. Ya Allah jauhkanlah kami dari siksa neraka-Mu, karena kami sangat takut akan siksa neraka-Mu.Ya Allah bimbinglah kami agar dapat memanfaatkan sisa hidup kami untuk selalu dijalan-Mu.……

6. Membayangkan surga-Nya.
Kesenangan duniawi hanya bersifat sementara, sangat singkat dibanding dengan kenikmatan di akhirat yang tidak dibatasi waktu.Semoga kita dapat selalu mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan Insya Allah diizinkan untuk meraih Surga-Nya. Amin…..
7a. Mengikuti tausyiah atau mengikuti pengajian secara rutin seminggu satu kali (minimal), dua kali atau lebih. Insya Allah... dengan mendengar tausyiah atau mengikuti pengajian, akan meningkatkan keimanan karena selalu diingatkan kembali utk selalu dekat kpd Allah SWT. Perlu dicatat, dikarenakan iman bisa turun atau naik, maka harus dijaga agar iman tetap stabil pada keadaan tinggi/ kuat dengan mengikuti tausyiah, pengajian dsb.
7b. Bergaul dengan orang-orang sholeh.
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa tingkat keimanan kita bisa turun atau naik, untuk itu perlu dijaga agar tingkat keimanan kita tetap tinggi. Berada pada lingkungan kondusif dimana orang-orangnya dekat dengan Allah SWT, Insya Allah juga akan membawa kita untuk makin dekat kepada-Nya.
8. Membaca Al Qur'an dan maknanya (arti dari setiap ayat yang dibaca)
Insya Allah dengan membaca Al Qur'an dan maknanya, akan menjadikan kita makin dekat dengan-Nya.
9. Menambah pengetahuan keislaman dengan berbagai cara, antara lain dengan : membaca buku, membaca di internet (tentang pengetahuan Islam, artikel Islam, tausyiah dsb), melihat video Islami yang dapat meningkatkan keimanan kita.
10. Merasakan kebesaran Allah SWT, atas semua ciptaan-Nya seperti Alam Semesta (jagad raya yang tidak berbatas) beserta semua isinya.
11. Merenung atas semua kejadian alam yang terjadi di sekeliling kita (tsunami, gunung meletus, gempa dsb). Dimana semua itu mungkin berupa ujian keimanan, peringatan, atau teguran bagi kita agar kita selalu ingat kepada-Nya/ mengikuti perintah-Nya. Bukan makin tersesat ke perbuatan maksiat atau perbuatan lain yang dilarang oleh-Nya. Ya Allah kami mohon bimbingan-Mu agar kami dapat selalu introspeksi atas semua kesalahan yang kami perbuat, meninggalkan larangan-Mu dan kembali ke jalan-Mu ya Allah.
12. Mensyukuri begitu besar nikmat yang sudah diberikan oleh Allah SWT
Jangan selalu melihat ke atas, lihatlah orang lain yang lebih susah. Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh-Nya.Saat ini kita masih bisa bernafas, masih bisa makan, bisa minum, masih mempunyai keluarga, masih mempunyai apa yang kita miliki saat ini,masih mempunyai panca indera mata, hidung, telinga dan...masih bisa bernafas (masih diberi kesempatan hidup). Masih pantaskah kita tidak bersyukur dan tidak berterimakasih pada-Nya.
Oleh : hamba Allah
Unknown artikel, haji, umroh

YAA ALLAH...

(Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-NYA.
Setiap waktu Dia dalam kesibukan.) ( QS.Ar-Rahman: 29)
Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang
menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru, " Ya Allah!"
Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir; kendaraan menyimpang
jauh dari jalurnya; dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya,
mereka akan menyeru, " Ya Allah ! "
Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka
yang tertimpa akan selalu berseru, " Ya Allah!"
Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan
digeraikan, orang-orang mendesah, " Ya Allah !"
Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa
menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka
pun menyeru , " Ya Allah!"
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup
dan jiwa serasa seolah tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus
Anda pikul, menyerulah, " Ya Allah! "
Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita,
dan wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut nama-MU dengan lantang di saat fajar menjelang,
dan fajarpun merekah seraya menebar senyuman indah
Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang
menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggudah-
gulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-NYA.
Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan,
julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke
arah-NYA untuk memehon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain
hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-NYA.
Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi
menegang, dan iman kembali berkobar-kobar.
Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-NYA, keyakinan akan
semakin kokoh. Karena,
(Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamban-NYA.) QS. Asy-Syu'ra:19
Allah : Nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling
indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga.
(Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia
(yang patut disembah) ? ) QS.Maryam : 65
Allah : Milik-NYA semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan,
kemuliaan, kemampuan, dan hikmah.
(Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa
lagi Maha Mengalahkan) QS. Ghafir : 16
Allah: dari-NYA semua kasih-sayang, perhatian, pertolongan, bantuan,
cinta dan kebaikan.
(Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah
datangnya) QS. An-Nahl: 53
Allah: Pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.
Betapun kulukiskan keagungan-MU dengan deretan huruf,
Kekudusan-MU tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna,
akan lebur, mencair, di tengah keagungan-MU, wahai Rabku
Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan
kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi
rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju
keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.
Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam
ini rasa kantuk dari-MU yang menentramkan, tuangkan dalam jiwa yang
bergolak ini kedamaian, dan ganjarlah dengan kemenangan yang nyata.
Wahai Rabb, tunjukanlah pandangan yang kebingungan ini kepada
cahaya-MU, bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-MU
nmerapat ke hidayah-MU!
Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan
memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan
secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan
bantuan bala tentara-MU!
Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah
kegundahan dari jiwa kami semua!
Kami berlindung kepada-MU dari setiap rasa takut yang mendera,
hanya kepada-MU kami bersandar dan bertawakal, hanya kepada-MU
kami memohon, dan hanya dari-MU lah semua pertolongan.
Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah
sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

Sumber : Buku LA TAHZAN (Pengarang : DR. Aidh Al-Qarmi)
Unknown artikel, haji, umroh